Detail Info Terkini

Ekspor RI Tembus Rp317T, Industri Pangan Jadi Primadonanya!

24 Agustus 2022 | Kategori : Ekonomi


Jika dirupiahkan dengan asumsi kurs tengah Bank Indonesia (JISDOR) per Rabu (24/8/2022) yang sebesar Rp14.893 per USD, maka nilai ekspor tersebut mencapai sekira Rp317,97 triliun. 

“Data tersebut menunjukkan kinerja sektor industri pangan sudah cukup baik, yang juga telah mampu memberikan surplus neraca perdagangan sebesar USD12,95 miliar,” ungkap Menperin di Jakarta, Rabu (23/8/2022).

Adapun lima komoditas ekspor dari industri pangan Indonesia adalah minyak kelapa sawit, bungkil sawit, margarin, minyak kelapa, dan udang beku.

Berikutnya, diterangkan Agus, industri pangan merupakan subsektor yang menempati peringkat kedua dalam memberikan kontribusi terbesar terhadap investasi industri nonmigas pada kuartal II-2022, dengan capaian Rp22,42 triliun. 

“Peningkatan kinerja industri khususnya pada subsektor pangan ini patut kita syukuri dan perlu dipertahankan dan ditingkatkan lagi, dengan tetap mewaspadai di tengah adanya ancaman krisis pangan dunia,” jelasnya.

Adapun investasi terbesar di sektor pangan, antara lain meliputi industri roti, tepung dan kelapa sawit. Untuk penyerapan tenaga kerja, jumlah pekerja di sektor industri pangan sebanyak 5,21 juta orang atau berkontribusi 20,87% dari total tenaga kerja sektor industri pengolahan nonmigas yang mencapai 18,64 juta orang.

Sedangkan, untuk subsektor IKM pangan terdapat 1,68 juta unit usaha yang memberikan kontribusi sebesar 1,33% terhadap PDB nasional pada kuartal II-2022. 

“Semua provinsi di Indonesia memiliki sentra IKM pangan, dengan jumlah keseluruhan mencapai 4.107 sentra IKM dengan total 155.605 unit usaha yang menyerap tenaga kerja sebanyak 431.830 orang,” tutur Agus.

Secara khusus, pada tahun ini, beberapa program kegiatan yang telah dilakukan oleh Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) dalam upaya pengembangan sentra IKM berbasis bahan pangan lokal, di antaranya adalah peningkatan nilai tambah komoditas bahan pangan lokal pada sentra penghasil.

Selanjutnya, bimbingan, pendampingan dan sertifikasi HACCP terhadap empat pelaku IKM penghasil tepung mocaf dan tepung porang. Ada pula pendampingan teknis dan bisnis dari tenaga ahli, pengembangan jaringan (bahan baku dan pasar), serta sertifikasi sistem keamanan pangan terhadap delapan IKM.

“Kami juga melakukan promosi dalam rangka peningkatan pasar melalui pameran dalam negeri, marketplace lokal dan global, kemudian peningkatan teknologi dan kapasitas produksi melalui program restrukturisasi mesin dan peralatan, serta kemitraan IKM pangan binaan dengan hotel, restoran dan kafe (Horeka),” papar Direktur Jenderal IKMA Kemenperin, Reni Yanita.


Bagikan  
  131
0  Komentar

Beri Komentar & Nilai Artikel ini.

Email anda tidak akan ditampilkan

   Hubungi Kami