Detail Info Terkini

Vale Indonesia (INCO) Optimalkan Produksi di Kuartal Keempat

31 Oktober 2022 | Kategori : Saham

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) akan mengoptimalkan produksi nikel dalam matte di periode kuartal keempat 2022. Ini setelah proses pengerjaan ulang tanur 4 milik INCO telah rampung pada Juni 2022 kemarin.

Adapun produksi INCO tercatat naik di periode kuartal ketiga 2022. INCO memproduksi 17.513 metrik ton nikel dalam matte pada triwulan ketiga tahun 2022Volume produksi INCO di periode ini 39% lebih tinggi dibandingkan dengan volume produksi yang direalisasikan pada trilwulan kedua 2022. Pada periode tersebut, produksi INCO hanya sebesar 12.567 metrik ton.

Kenaikan produksi ini terutama disebabkan oleh selesainya pembangunan kembali tanur 4 pada Juni 2022. Di saat yang sama, INCO berhasil meningkatkan kapasitas tanur 4 pada kuartal kedua 2022.Sebagai gambaran, INCO memasang target produksi sebanyak 65.000 ton nikel matte di tahun ini. Meski akan mengoptimalkan produksi di kuartal keempat, Chief Financial Officer Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengatakan tetap ada beberapa tantangan INCO untuk bisa mencapai target produksi 2022.

Irmanto tidak merinci lebih jelas terkait proyeksi produksi tahun depan. Yang jelas, Irmanto menegaskan produksi nikel Vale Indonesia untuk tahun depan akan lebih tinggi dibanding 2022 dengan kembalinya operasional tanur 4.

“Namun, perlu dilihat juga kadar nikel dari tambang kami dan juga jadwal pemeliharaan sepanjang tahun,” kata Irmanto kepada Kontan.co.id, Jumat (28/10)Analis BRI Danareksa Sekuritas Hasan Barakwan dalam  riset tertanggal 29 September 2022 merekomendasikan beli saham INCO dengan target harga yang lebih tinggi, yakni Rp 7.600 dari sebelumnya Rp 6.300. Salah satu pertimbangan dalam penaikan target harga ini adalah dengan memperhitungkan proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) Pomalaa yang akan efektif beroperasi pada tahun 2025.

Hanya saja, Hasan masih belum memperhitungkan smelter HPAL lain milik INCO di Sorowako ke dalam valuasi INCO. Namun, begitu proyek ini masuk ke tahap final investment decision (FID), Hasan menyebut hal ini bisa menjadi pendongkrak bagi valuasi INCO.

Terkait produksi, Hasan meyakini puncak pertumbuhan produksi nikel matte INCO di tahun ini akan terjadi selama kuartal ketiga 2022. Dengan target produksi yang tidak berubah, BRI Danareksa Sekuritas juga mempertahankan proyeksi kinerja keuangan INCO pada tahun ini. Tahun ini, INCO diproyeksi membukukan pendapatan senilai US$ 1,17 miliar, dengan laba bersih mencapai US$ 257 juta.

Di sisi lain, Hasan memperkirakan harga nikel akan terus menurun di kuartal-kuartal berikutnya, seiring adanya surplus pasokan nikel imbas dari tambahan kapasitas smelter nikel sekitar 180.000 ton tahun ini. Dengan demikian, Hasan melihat adanya penurunan margin di paruh kedua 2022.


Bagikan  
  96
0  Komentar

Beri Komentar & Nilai Artikel ini.

Email anda tidak akan ditampilkan

   Hubungi Kami